Senin, 04 April 2011

Sejarah Nuso Barong/ Pulau Nusa Barung Puger,Jember

Nusa Barung (Nuso Barong) adalah sebuah Pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa .Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Jember. Pantai puger merupakan gerbang keluar menuju Cagar Alam Pulau Nusa Barong. Tidak banyak yang tahu bahwa Pulau Nusa Barong di tahun 1700-an merupakan Pulau yang telah dihuni oleh penduduk multi etnis nusantara dan kawasan perlawanan rakyat yang sangat monumental, kaya strategi dan teknik-teknik perlawanan, yang mana sangat menyulitkan kepentingan kekuasaan VOC Belanda dipesisir laut selatan Jawa.  

Pulau Nusa Barong merupakan Pulau kecil, terletak 3 mil dari pantai puger-Kabupaten Jember. Pulau ini masuk dalam wilayah administratif kabupaten Jember. Sekarang Pulau tersebut berstatus sebagai cagar alam yang direncanakan sebagai salah satu wisata Kabupaten Jember. Sebelum Blambangan ditaklukkan oleh VOC pada tahun 1768, Pulau Nusa Barong secara ekonomi sangatpenting bagi Blambangan. Nusa Barong merupakan penghasil sarang burung yang signifikan bagi penguasa Blambangan. Hasil produksi sarang burung itu dikirimkan ke para pedagang Cina. Ketika perang berlangsung antara Blambangan melawan VOC (1767-1768), orang-orang blambangan dan lumajang banyak mengungsi ke Pulau Nusa Barong. Pulau Nusa Barong ada tahun 1772 sudah terdapat 250 keluarga atau 1000-an jiwa yang mengelompok dalam 7 perkampungan dan 5 tahun berikutnya jumlah penduduknya menjadi dua kali lipat. Populasi penduduknya terdiri dari multi etnis Nusantara. Orang-orang bugis mendominasi populasi di Nusa Barong, sedangkan sisanya diisi oleh etnis Mandar,

Wajor, Bali, Sumbawa, Manggar, Malay, dan jawa.

Pada saat Blambangan ditundudukkan oleh VOC di tahun 1768, VOC mulai

membangun benteng pertahanan kecil, dan menempatkan beberapa tentaranya

(terdiri dari orang eropa dan Jawa) di Nusa Barong dibawah

pimpinan Sersan Reebos. Adapun tujuan utamanya yakni untuk menghalau

kedatangan para pedagang sarang burung atau para pelarian prajurit

blambangan yang bisa menggangu kepentingan belanda di pesisir selatan

laut Jawa. Pimpinan utama penduduk multi etnis Nusa Barong

bernama Sindu Kopo, sedang pimpinan kedua di pegang oleh Sindu Bromo.

Adapun Sindu Bromo adalah anak tiri dari Sindu Kopo.

Setelah perlawanan pangeran Wiilis Blambangan dapat dipatahkan,

Pulau Nusa Barong sudah dianggap tempat yang

tidak membahayakan lagi. Orang-orang Belanda melalu sersan Reebos dan

para tentaranya pergi begitu saja meninggalkan Nusa Barong

tanpa seorangpun tentaranya yang ditempatkan disana.

Selepas kepergian sersan Reebos dan tentaranya, di Nusa

Barong
terjadi pergantian kepemimpinan utama dari Sindu Kopo ke

Sindu Bromo. Konon Sindu Kopo dibunuh oleh Sindu Bromo karena telah

berpihak pada orang-orang Belanda. Pada tahun 1771, ketika peperangan

Blambangan dengan VOC berkobar kembali, perlawanan blambangan dipimpin

oleh pangeran Pakis atau Rempeg, banyak pula yang bukan orang

blambangan, seperti orang Bugis, orang Mandar, dan orang Cina, bahu

membahu dalam satu barisan berperang melawan VOC. Perlawanan membara

ini dapat dipadamkan (tahun 1772), banyak para pemimpin utama

diantaranya, bapak Endo, Larat, Rupo, Wilondro, Somprong, dan Kapulogo

melarikan diri dan bersembunyi di Pulau Nusa

Barong
. Oleh karenanya Belanda mengirim 3 mata-matanya kesana

namun kemudian hilang kabar dan tak pernah kembali.

Juragan Jani dan Perlawanan Rakyat Nusa Barong

Sindu Bromo, pimpinan Pulau Nusa Barong,

merasakan, akibat pendudukan sersan Reebos dan tentaranya,

Pulau Nusa Barong menjadi sepi dari lalu

lintas perdagangan, dan perkembangan ekonomi akhirnya menjadi lesu.

Kemudian secara regular, Sindu Bromo mengirim orang-orangnya ke Bali

untuk meyakinkan para saudagar disana tentang situasi Nusa

Barong
terbaru. Setelah misi ini berhasil meyakinkan para

saudagar di Bali, kemudian beberapa saudagar Bali dan Mandar mulai

berkunjung ke Pulau Nusa Barong. Perlahan

tapi pasti beberapa kapal besar dan kecil dari Bali atau dari Bengkulu

mulai bersandar, dan ekonomi rakyat Nusa Barong mulai

bangkit kembali dari kelesuannya.

Perkembangan ekonomi Nusa Barong kemudian dibarengi dengan

perkembangan kekuatan politik rakyat yang luar biasa. Sekitar bulan

oktober 1772, satu buah kapal besar dari Bengkulu dibawah kendali

nahkoda Sabak bersandar di Pulau Nusa Barong.

Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Sindu Bromo sebagai

pimpinan Nusa Barong. Bahkan dia menawarkan agar

orang-orang Mandar ini membangun rumah dan menetap di Nusa

Barong
. Karena nahkoda Sabak tidak punya cukup waktu singgah,

maka dia mempercayakan kepada Juragan Jani untuk menerima tawaran Sindu

Bromo tersebut.

Kelihatannya Juragan Jani adalah orang yang berbakat menjadi pimpinan.

Dengan kepercayaan yang diberikan Nahkoda Sabak dan harapan Sindu Bromo

yang begitu tinggi, tak berapa lama dia menikah dengan putri Sindu

Bromo. Selanjutnya kepemimpinan Pulau Nusa

Barong
diserahkan pada Juragan Jani.

Dibawah pimpinan Juragan Jani, Nusa Barong disulap lebih

dari sekedar Bandar persinggahan tetapi sekaligus sebagai emperium yang

mengancam kepentingan politik VOC di pesisir laut jawa selatan. Juragan

Jani dalam kebijakan awalnya, menempatkan terlebih dahulu para

pejuangnya di benteng-benteng yang sebelum dibuat oleh orang belanda,

dan mempersiapkan dengan 60 senjata api, 3 ton serbuk mesiu dan 4

meriam kecil. Dia juga menambahkan armadanya dengan 50 kapal Mandar, 1

pancalang, 3 paduwakan dan mendatangkan banyak penduduk ke Nusa

Barong
.

Rakyat Nusa Barong bersama Juragan Jani benar-benar

berkonsentrasi mempersiapkan perlawanannya dengan banyak serbuk mesiu,

amunisi, pejuang dan bahan makanan. Untuk mengorganisir keperluan

tersebut, dia mengirimkan para pelayarnya kebeberapa tempat, terutama

ke Badung. Pada maret 1773 juragan Jani mengirim 4 kapal yang dibawahi

oleh Juragan Balobo, Juragan Sinto, dan Juragan Kolo ke Badung untuk

menganggkut Amunisi dan beberapa keluarga ke Nusa Barong.

Sekembalinya ke Nusa Barong mereka membawa 70 orang

pejuang. Diantara orang-orang tersebut, ada dua eks-pejuang Wajor

Blambangan bernama Bagus Jawat dan Bagus Benu.

Singkat cerita bebagai cara dilakukan Juragan Jani dan rakyatnya untuk

menambahkan ketercukupan kekuatan perangnya, mulai dari bubuk mesiu,

amunisi, bahan makanan sampai mengimpor para pejuang. Banyak para

saudagar membantu mensuplai bahan-bahan keperluan yang dipesan Juragan

Jani. Setelah dirasa memiliki kekuatan yang sangat cukup, rakyat

Nusa Barong kini benar-benar menjadi kuat untuk melakukan

perlawanan pada VOC disepanjang pesisir laut selatan Jawa.

Rakyat Nusa Barong telah banyak mendapat serbuk mesiu dan amunisi didalam benteng-bentengnya dan juga banyak penduduk bermigrasa ke Nusa Barong. Dengan semua itu, saatnya memulai penyerangan pada VOC dan antek-anteknya. Rencana awal serangan dituju kekebeberapa tempat yang dibawah penguasaan antek-antek Belanda seperti di Meru. Sabrang, Gunung Pager, dan Dedali. Aksi serangan dimaksud untuk menimbulkan insiden dan menarik perhatian VOC untuk perang terbuka.

Aksi pertama serangan pemimpin Juragan Jani dan rakyat Nusa Barong dilakukan di Gunung Meru, 22 Pebruari tahun 1773, dengan2 kapal besar dan 2 jukung, mereka menyerang terlebih dahulu pada orang-orang jawa yang menjadi antek belanda. Dalam pertempuran ini pemimpin bapak Roman dan adiknya terbunuh, 6 pengikutnya ditangkap, dan sarang burungnya dirampas. Sedang 1 orang lolos, bernama bapak Samprit dan melaporkan pertempuran tersebut pada VOC.Pancingan Juragan Jani dan pengikutnya, berhasil menarik perhatian orang-orang Belanda. Setelah pertempuran tersebut orang-orang Belanda Intensif berpatroli disepanjang Pesisir Selatan Laut Jawa. Sementara orang-orang Belanda intensif berpatroli, semakin banyak pula pertempuran yang diciptakan oleh para pejuang Nusa Barong pada antek-antek Belanda.

Pada Oktober 1773, orang-orang Nusa Barong dengan menaiki 9 perahu, 40 senjata api, 50 tombak, mendarat dipantai puger dan menyerang kapal patroli orang-orang Belanda.

Dalam pertempuran ini dari pihak VOC, 8 orang terbunuh. Sedang dari pihak pejuang Nusa Barong, beberapa perahu menabrak karang karena angin begitu kencang dan mereka menyelamatkan diri menuju WediAlit. Dua perahu yang selamat kembali ke Pulau Nusa Barong. Keesokan harinya, 13 kapal dari Nusa Baru kembali lagi ketempat itu mencari 5 perahu dan orang-orangnya yang hilang dan bertahan diseputar tempat pertempuran.Sudah sejak 1773, perkembangan politik di Nusa Barong menjadi perhatian utama kekuasaan orang-orang belanda di Blambangan danSurabaya. Ekspedisi militer telah direncanakan ke Nusa Barong oleh VOC, ketika pertempuran berantai antara patroli orang belanda dengan rakyat Nusa Barong dipesisir laut selatan Jawa. Baru kemudian Gubernur Semarang menyiapkan serangan serentak setelah empat tahun berikutnya, tepatnya tahun 1977. Sebelum serangan serentak dilakukan oleh pasukan gabungan orang-orang belanda yang dikumpulkan dari Bangil, Probolinggo, Malang, dan Blambangan ke Nusa Barong, pada oktober 1776 di Pulau Nusa Barong, telah terjadi pergantian pimpinan politik oleh Nahkoda sabak di Pulau Nusa Barong. Sementara kemisteriusan hilanganya Juragan Jani telah melemahkan kekuatan rakyat Nusa Barong. Akhirnya, tepatnyatanggal 17 Agustus 1977, pasukan gabungan orang-orang Belanda memulai serangan serentak dibawah komandan Adriaan van Rijk di Pulau Nusa Barong. Dalam peperangan yang berjalan tak seimbang tersebut, sebanyak 27 pejuang Nusa Barong terbunuh. Sementara yang lainnya melarikan diri.Benteng-benteng pertahanan dan rumah para penduduk dirobohkan. Pasukan Belanda terus memburu para pejuang Nusa Barong yangmelarikan diri kehutan. Seminggu berikutnya, sejumlah 33 orang pejuang Bugis, Mandar dan bali ditemukan dalam keadaan luka yang bersembunyi dihutan ditangkap.Para kaum laki-laki Nusa Barong, selain terbunuh dan tertangkap, kebanyakan melarikan diri. Rakyat yang tersisa diPulau Nusa Barong praktis tinggal 98 oranyang terdiri kaum ibu dan anak-anak. Kemudian oleh belanda mereka dipindahkan ketempat lain. Setelah Nusa Barong dapat ditundukkan, para pasukan Belanda ditempatkan di Pulau tersebut dan melakukan pengawasan ketat disekitar pesisir selatan dalam jangka waktu yang agak lama. Sejak saat itulah, PulauNusa Barong menjadi steril dari lalu lalang para pedagang bebas, serta orang-orang pribumi dilarang bertempat tinggal didalamnyaSampai sekarang Pulau Nusa Barong berstatus Pulau yang boleh dihuni dan tak berpenghuni.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Informasi Jember Dan Sekitarnya. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.